Sejarah Desa

SEJARAH PAGUYANGAN

Asal muasal disebutnya Desa Paguyangan menurut cerita riwayat turun temurun sesepuh Desa adalah berasal dari kata “ Guyang “ atau siram yang konon ada suatu kolam/sumur kecil yang biasa dipergunakan untuk mengguyang kuda yang dipakai oleh Raden Kamandaka ketika beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.

**Mengutip sumber dari inventarisasi pembukuan penamaan rupa bumi di wilayah administrasi (camat paguyangan)

Asal mula penamaan Paguyangan berasal dari kata “pengguyangan” yang berarti tempat yang disiram / digayung / diguyang, Sejarah namanya bermula dari :
Tumenggung Puspanegara meninggalkan pasewakan, meninggalkan Surakarta dengan tujuan pulang ke Brebes. Para Bupati resah dan gelisah apakah yang hendak terjadi. Tidak ayal lagi hati Sri Sunan Paku Buwana, yakin bahwa Puspanegara benar-benar membahayakan. Oleh karenanya perlu segera dikejar dan ditangkap kemudian di bunuh. Pangeran Mangkubumi dengan kekuatan prajurit secukupnya diperintahkan untuk melaksanakan keputusan Sang Raja.

Pengejaran atas diri Puspanegara segera dikerjakan dan terus berlangsung. Setelah berjalan beberapa hari maka terciumlah jejak Puspanegara dikawasan Bumiayu, desa Kretek menjadi sasaran utama. Desa itu dikepung ketat oleh prajurit dari Surakarta, peluru pun mulai dihamburkan. Tetapi karena kesaktiannya Puspanegara Mampu meloloskan diri dari kepungan yang sangat ketat itu.

Kejadian yang menakjubkan dan kegagalan itu makin membakar kemarahan Pangeran Mangkubumi. Tindakan kejam dan membabi buta terhadap rakyat yang tidak berdosa pun dilakukan. Penduduk Desa Kretek dan sekitarnya dianiaya, terkena sabetan pedang dan tembusan peluru. Mereka yang betul-betul tidak mengetahui dimana tempat persembunyian Tumenggung Puspanegara ditangkap dan dipaksa-paksa untuk menunjukan tempat tersebut. Yang tetap tidak menjawab lalu dibenam-benamkan kedalam air sungai, disiram-siram dan digayung sampai tidak sempat menarik nafas. Dalam kondisi yang seperti itu pun mereka tetap menjawabtidak mengetahui keberadaan Tumenggung Puspanegara. Tempat “pangguyangan” itulah yang disebut dengan nama Paguyangan.